Bandung, 26 Agustus 2025 – Sasaka Indonesia menyelenggarakan forum kolaborasi daring yang menghadirkan pemikir dan praktisi dari berbagai bidang. Forum ini membahas urgensi pembangunan infrastruktur pedesaan, khususnya jembatan gantung, melalui pendekatan kolaboratif lintas lembaga dan sumber pendanaan. Dalam forum SAKATALK 2025 bertajuk “Membedah Potensi Pendanaan Untuk Program Infrastruktur”, Sasaka Foundation menghadirkan narasumber lintas sektor:
-
Rio Zakarias W. – Sekjen Forum CSR Indonesia
-
Ust. Panji Adam – Dewan Pengawas Syariah Sinergi Foundation
-
Komaludin – Direktur Sasaka Indonesia
Mereka membahas peluang besar pendanaan infrastruktur melalui CSR, filantropi, zakat, wakaf, crowdfunding, hingga partisipasi masyarakat.
Zakat sebagai Instrumen Infrastruktur
Ust. Panji Adam menegaskan bahwa zakat secara klasik memang terikat pada QS. At-Taubah: 60, yang menyebutkan 8 golongan penerima. Ulama klasik (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) pada umumnya tidak membolehkan zakat dipakai untuk infrastruktur karena tidak memenuhi syarat tamlik (kepemilikan langsung oleh mustahik).
Namun, ulama kontemporer seperti Syaikh Rashid Ridho, Mahmud Shaltut, dan Yusuf Al-Qaradawi menafsirkan fi sabilillah secara lebih luas: mencakup jihad dengan harta, dakwah, pendidikan, hingga pembangunan fasilitas publik yang mendukung kemaslahatan umat.
“Kalau kita melihat konteks hari ini, jembatan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah jalan menuju sekolah, rumah sakit, pasar, bahkan penyelamat nyawa. Maka wajar jika zakat dipahami juga bisa menjadi instrumen untuk infrastruktur kemaslahatan,” ujar Ust. Panji Adam.
CSR dan Filantropi sebagai Pilar Kolaborasi

Forum ini juga menyoroti peran sektor swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR), filantropi, serta potensi besar dana sosial keagamaan (zakat Rp327 triliun, wakaf Rp180 triliun, crowdfunding Rp22 triliun).
Rio Zakarias W menekankan bahwa CSR bukan hanya kepatuhan hukum, melainkan instrumen strategis perusahaan untuk berkontribusi langsung pada pembangunan infrastruktur sosial. “Perusahaan memiliki peran penting untuk menjembatani kebutuhan masyarakat melalui program CSR. Jika digabungkan dengan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf, maka pembangunan jembatan tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga gerakan sosial yang berkelanjutan,” jelas Rio Zakarias W.
Skema pendanaan blended finance didorong dengan komposisi:
-
Zakat & Wakaf untuk mustahik dan keberlanjutan sosial.
-
CSR & Filantropi untuk logistik, material, dan dana darurat.
-
Crowdfunding & NGO sebagai penggerak partisipasi publik.
-
Masyarakat sebagai pelaku gotong royong dan perawatan jembatan.
“CSR bukan sekadar program tahunan perusahaan, tapi komitmen jangka panjang untuk pembangunan berkelanjutan. Infrastruktur desa adalah investasi sosial yang memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” disampaikan dalam sesi CSR & Filantropi.
Skema Kolaborasi Multi-Lembaga

Sesi berikutnya dipaparkan oleh Komaludin, inisiator program pembangunan jembatan berbasis kolaborasi. Sejak 2020–2025, ia dan tim telah membangun 34 jembatan dengan total bentang ±1.500 meter yang memberi manfaat langsung bagi ±80.999 jiwa, dengan dana sosial yang terhimpun mencapai Rp7,7 miliar.
Komaludin menekankan bahwa kebutuhan jembatan desa di Indonesia sangat mendesak: 28% dari 19.000 jembatan dalam kondisi rusak, 74.000 desa masih minim akses transportasi, dan kerugian ekonomi mencapai 30% potensi hasil bumi karena hambatan distribusi.
“Satu jembatan bisa mengubah hidup ribuan orang. Dengan zakat dan kolaborasi, ribuan jembatan bisa lahir, jutaan masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ungkap Komaludin.
Dampak nyata jembatan terbukti signifikan:
-
Ekonomi: biaya distribusi hasil tani berkurang hingga 50%, omzet warung desa naik ±Rp360 juta/tahun.
-
Pendidikan: 100 siswa dan 2 guru lebih mudah bersekolah tanpa biaya tambahan transportasi.
-
Sosial: partisipasi warga meningkat, gotong royong semakin kuat.
Sasaka berperan sebagai integrator: menyusun desain, engineering, manajemen proyek, hingga quality control. Melalui Sasaka Innovation Space di Cikalong, pabrikasi modular jembatan dilakukan agar lebih efisien, cepat, dan berkelanjutan.
Forum ini menegaskan bahwa backlog infrastruktur di Indonesia dapat diatasi melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor. Perpaduan zakat, CSR, filantropi, crowdfunding, dan gotong royong masyarakat adalah jawaban untuk percepatan pembangunan jembatan desa sekaligus mendukung pencapaian SDGs 2030.















