Media

Jembatan Leuwipanoong: Perekonomian Terputus, Panggilan untuk Dukungan Donatur

Banten – Jembatan Leuwipanoong, yang menghubungkan dua kabupaten vital, menjadi titik fokus kekhawatiran karena kondisi yang sangat tidak layak. Jembatan ini adalah jalur utama antara Kecamatan Cinangka, Serang Banten, dan Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang Banten. Namun, dengan konstruksi yang terbuat hanya dari susunan bambu dan kayu, jembatan ini tidak mampu menopang beban kendaraan roda empat, membatasi akses dan menghambat pertumbuhan ekonomi kedua daerah yang berdampak bagi setidaknya 3000 jiwa.

Dengan panjang jembatan 24 meter, Jembatan Leuwipanoong adalah urat nadi perekonomian lokal. Namun, saat ini, jembatan ini hampir tidak dapat digunakan oleh kendaraan roda empat. Kondisi yang memprihatinkan ini menghambat arus transportasi dan mengisolasi komunitas di kedua sisi sungai.

Menyadari urgensi situasi ini, kami, bersama dengan pemerintah desa, mengajukan panggilan kepada para donatur untuk berkontribusi dalam pembangunan jembatan permanen yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Dukungan dari donatur akan membantu mengembalikan aksesibilitas dan memulihkan konektivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan antara kedua kabupaten.

Keadaan ini diakui Arif, seorang tokoh pemuda di wilayah tersebut, yang bercerita tentang kesulitan akses kesehatan yang dirasakan oleh warga sekitar. “Saat ini, untuk mencapai fasilitas kesehatan yang sebenarnya hanya berjarak 30 menit, kami harus memutar sejauh 2 jam karena keterbatasan jembatan,” ungkap Arif dengan nada prihatin.

Program ini tidak hanya akan meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas, tetapi juga akan membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan pengembangan infrastruktur di wilayah ini. Dengan membuka akses bagi kendaraan roda empat, jembatan baru ini akan membantu memperkuat konektivitas antar-komunitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Kami mengundang semua pihak yang peduli dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Banten untuk bergabung dalam upaya ini. Bersama-sama, kita dapat membangun jembatan permanen yang kokoh dan berkelanjutan, membawa harapan dan kemajuan bagi seluruh komunitas di sekitarnya.

 

Jembatan Cisarakan yang Putus: Isolasi Warga Gelarpawitan dan Dampaknya pada Pendidikan

Canjur, Jawa Barat – Jembatan Cisarakan yang menghubungkan Desa Neglasari dengan Desa Gelarpawitan mengalami kerusakan parah sejak tahun 2021 dan belum mendapatkan perbaikan hingga saat ini. Kondisi ini menyebabkan isolasi signifikan bagi warga Gelarpawitan, yang kini mengandalkan jembatan darurat yang dibuat alakadarnya oleh warga setempat.

Kronologi Kejadian:

Kejadian bermula pada tahun 2021 ketika luapan air sungai mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat hujan deras yang melanda wilayah ini. Jembatan Cisarakan tidak mampu menahan tekanan air yang begitu besar, sehingga rusak parah dan putus total.

Akibatnya, warga Gelarpawitan yang sebelumnya dapat dengan mudah mengakses berbagai fasilitas di Desa Neglasari, kini terisolasi. Dampak terbesar dirasakan oleh siswa-siswi SDN Cisarakan, sebuah sekolah yang bergantung pada keberadaan jembatan untuk memastikan akses pendidikan yang lancar bagi para pelajar.

Dampak pada Pendidikan:

Sejak jembatan putus, siswa-siswi SDN Cisarakan dan guru-guru mereka harus mengandalkan jembatan darurat yang dibuat secara sederhana oleh warga. Namun, jembatan darurat ini tidak memadai ketika hujan deras menyebabkan air sungai meluap, dan debet air yang tinggi membuat jembatan darurat tidak dapat dilewati.

Dengan kondisi ini, para siswa, guru, dan warga lainnya terpaksa harus melakukan perjalanan memutar selama lebih dari 5 kilometer untuk mencapai sekolah. Ini tidak hanya mengakibatkan kelelahan, tetapi juga memakan waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.

Upaya Gotong Royong Warga:

Meskipun kondisi sulit, warga Gelarpawitan telah berusaha sekuat tenaga untuk membuat jembatan darurat sementara. Namun, upaya ini belum dapat mengatasi permasalahan secara menyeluruh. Dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung, jembatan darurat tetap tidak dapat digunakan, dan isolasi warga semakin mendalam.

Tantangan Mendesak:

Perbaikan Jembatan Cisarakan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga sebuah kebutuhan mendesak untuk memastikan akses masyarakat terhadap berbagai sektor, terutama pendidikan. Para siswa dan pendidik di SDN Cisarakan tidak dapat terus menerus bergantung pada jembatan darurat yang tidak aman dan tidak dapat diandalkan.

Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait diharapkan segera merespon dan menyediakan solusi untuk membangun kembali Jembatan Cisarakan. Ini bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga hak dasar masyarakat untuk mendapatkan akses yang layak terhadap pendidikan dan layanan publik lainnya.

Keputusan dan tindakan cepat dibutuhkan untuk mengatasi isolasi ini dan memberikan solusi jangka panjang yang mampu menanggulangi tantangan cuaca dan kondisi sungai yang ekstrem. Seluruh masyarakat, khususnya para pelajar, tidak boleh terus menjadi korban dari kondisi yang seharusnya dapat diatasi.

Jembatan Kramat: Sebuah Simbol Gotong Royong dan Ketahanan Masyarakat Bagi 1.700 Jiwa

Jembatan Kramat yang terletak di Kampung Kramat Desa Kramatmanik, Kecamatan Muncang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sebuah ikon di desa ini, tidak hanya sekadar jaringan fisik yang menghubungkan dua sisi sungai. Ia adalah monumen hidup bagi semangat gotong royong dan ketahanan masyarakat. Dirintis pada tahun 1970 oleh swadaya masyarakat dengan menggunakan bambu dan kayu sebagai bahan utama, jembatan ini telah menyaksikan perjalanan panjang dan transformasi yang membanggakan.

Kejayaan Awal: 1970 – 1990

Pada awalnya, Jembatan Kramat dibangun dengan sumber daya terbatas, tapi semangat tak terbatas. Masyarakat desa bahu-membahu mengumpulkan bambu dan kayu untuk kemudahan akses bagi 1.700 jiwa yang akan merasakan manfaat dari jembatan ini. Namun, tantangan muncul ketika bambu, yang menjadi fondasi utama, menunjukkan kelemahan alaminya. Setiap dua tahun, dalam semangat gotong royong yang tinggi, warga kembali memperbaiki dan menguatkan jembatan yang menjadi nyawa desa.

Pergantian Perdana: 1990

Pada tahun 1990, pemerintah desa melangkah maju untuk memperbarui Jembatan Kramat. Dengan kebijaksanaan dan dukungan dari para pemangku kepentingan, jembatan gantung dengan pijakan kayu dibangun sebagai solusi yang lebih tahan lama. Langkah ini menjadi tonggak bersejarah, menciptakan fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan Jembatan Kramat.

Renovasi Menyeluruh: 2014

Pada tahun 2014, dalam upaya meningkatkan infrastruktur lokal, Jembatan Kramat menjalani renovasi menyeluruh. Meskipun mengalami perubahan signifikan, roh gotong royong tetap tidak tergoyahkan. Jembatan ini tetap menjadi pusat kehidupan desa, menyediakan jalur vital bagi aktivitas sehari-hari.

Kembali ke Akar: 2023

Kini, pada tahun 2023, Jembatan Kramat kembali membutuhkan perhatian, karena kondisi saat ini yang sudah memprihatinkan, bambu yang menjadi alas sudah tidak layak digunakan terutama bagi lansia.

Mari bergandengan tangan dan berikan dukungan untuk membantu membangun kembali Jembatan Kramat! Jembatan ini bukan hanya sebatas struktur fisik, tetapi juga representasi kebersamaan dan semangat gotong royong dalam masyarakat.

Setiap kontribusi Anda memiliki dampak besar. Bersama-sama, kita dapat memastikan bahwa Jembatan Kramat tetap menjadi tulang punggung komunitas, memberikan akses yang lebih baik, dan mewujudkan harapan bagi masa depan.

Jembatan BRILiaN Membangun Harapan Bagi Warga Garut dan Tasikmalaya

Tasikmalaya, 17 Oktober 2023 – Memasuki pekan kedua pembangunan, semangat warga semakin membara dengan setiap lapisan jembatan yang terangkat. Jembatan BRILiaN, yang menghubungkan Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya di Jawa Barat, adalah harapan besar bagi masyarakat setempat.

Sejak banjir bandang melanda daerah ini pada Agustus tahun lalu, warga di kedua kabupaten harus menyeberangi sungai Cikaengang dengan rakit bambu yang rentan terbawa arus. Akses pendidikan dan pelayanan kesehatan menjadi terhambat, dan mobilitas ekonomi pun terbatas.

Dalam wawancara dengan Bapak Uus, seorang tokoh masyarakat, dia berkata, ‘Ini adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu dengan harapan besar. Anak-anak kami akan lebih mudah pergi sekolah, kami akan lebih cepat mengakses pelayanan kesehatan dan peluang ekonomi. Terima kasih kepada para donatur dan relawan yang telah peduli terhadap kami. Ini adalah investasi untuk masa depan kami.’

Jembatan BRILiaN adalah hasil kerja sama antara Sasaka Indonesia dan YBM BRILiaN. Program ini menerima dukungan dari para donatur yang berkomitmen untuk membantu membangun akses yang lebih baik bagi masyarakat.

Semangat warga yang terus membara selama pembangunan jembatan ini adalah bukti bahwa harapan dan kerja keras dapat mengatasi setiap rintangan. Bersama-sama, kita menciptakan masa depan yang lebih cerah. Jembatan BRILiaN menjadi lambang harapan bagi semua.

Kami bersama-sama mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta dalam pembangunan jembatan ini dan berkomitmen untuk membantu masyarakat. Mari bersatu untuk mewujudkan perubahan yang berarti dalam kehidupan masyarakat. Dengan harapan dan kerja keras, kita dapat mengatasi setiap rintangan.

Peresmian Jembatan Asa Pertaladies: Momen Bahagia Bagi Warga Cibunar dan Maraya

Hari Minggu, tanggal 7 Oktober 2023, akan selalu diingat sebagai momen bersejarah bagi warga Kp. Cibunar, Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten, serta warga Kp. Maraya, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira. Jembatan Asa Pertaladies yang telah dinanti-nantikan selama bertahun-tahun akhirnya resmi diresmikan.

Hari peresmian jembatan ini menjadi bukti nyata kolaborasi positif antara Sasaka Indonesia dan Bazma Pertamina. Jembatan ini adalah hasil dari perjuangan keras warga dan kepedulian dari para donatur. Sejak tahun 2019, jembatan lama yang menjadi satu-satunya penghubung antara kedua kampung ini tidak lagi aman dilalui.

Dalam acara peresmian yang dihadiri oleh Direktur Keuangan Pertamina, terasa euforia kebahagiaan dari warga yang telah lama berjuang untuk mendapatkan akses yang lebih baik. “Jembatan ini bukan hanya struktur fisik, tapi juga simbol kebersamaan dan semangat untuk perubahan. Kami sangat berterima kasih kepada Sasaka Indonesia, Bazma Pertamina, dan Pertaladies yang telah membantu mewujudkan jembatan ini.” Ujar Sarmedi, tokoh masyarakat setempat.

Dalam pidatonya, Direktur Keuangan Pertamina menyampaikan, “Sesuai dengan namanya Jembatan Asa, kami bangun dengan penuh harapan, harapan untuk hidup lebih baik, harapan untuk belajar lebih baik, dan harapan untuk berkerja, berkarya lebih baik lagi. Kita bisa lihat ibu ibu sangat bergembira. Semoga harapan lebih baik itu akan menjadi kenyataan.”

Peresmian Jembatan Asa Pertaladies ini adalah bukti bahwa dengan kolaborasi, kita dapat mengatasi tantangan besar dan menciptakan perubahan positif yang dapat dirasakan oleh banyak orang. Sasaka Indonesia dan Bazma Pertamina berencana untuk terus berjuang dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan serupa di berbagai daerah di Indonesia.

1 2 3 9